Sabtu, Februari 20, 2010

Cornflake Cookies for Diabetic




Cookies Jar punya suami tersayang sudah menipis isinya, lagi cari-cari resep yang bisa buat diabetic controller, nemu resep ini di webnya tropicana slim. Aku ga tahu apa salah ngopi resep atau kelamaan mixernya kok adonannya lembek banget. Akhirnya aku tambahin terigu sampai bisa dibentuk dengan sendok.

Rasanya mirip cornflake cookies-nya mbak Silvy Gill yang pernah kuposting juga, meski pakai gula diet. Pas deh buat yang jaga gula darah.

Cornflake Cookies for Diabetic
Tropicana Slim

Bahan
155 gr terigu (akhirnya aku tambah lagi sekitar 100 gr karena terlalu lembek)
1 sdt BP
350 gr margarin (aku ganti mentega wysman plus margarin 1:1)
90 gr Tropicana Slim Gula Tebu Rendah Kalori
1/2 sdt vanila bubuk
2 butir telur
150 gr cornflake

Cara Membuat
- Campurkan terigu dan BP, ayak.
- Kocok margarin dan gula hingga putih dan mengembang. Tambahkan vanili dan telur, kocok rata.
- Masukkan terigu dalam adonan, aduk dengan sendok kayu hingga rata. Campurkan cornflake, aduk rata.
- Sendokkan ke loyang yang dioles mentega, beri jarak 4cm.
- Oven 160-180 'C selama 15-20 menit.

Sabtu, Februari 06, 2010

Flensjes







Flensjes sebenarnya adalah crepe dengan isi vla yang diberi taburan kismis. Kalau buat bekal Kirana dan Farras, karena tidak suka kismis, aku ganti dengan potongan ceri atau buah kaleng, dan dibentuk seperti dadar gulung. Cuma versi yang ini selalu tidak sempat difoto, karena pagi-pagi bikin langsung dibawa ke sekolah.
Satu variasi yang lain dibentuk crispy crepe. Idenya seperti crepe yang dijual di gerai-gerai jajan di mal. Caranya: Panaskan wajan datar, celupkan kuas yang lebar ke adonan, sapukan cepat ke wajan, hingga membentuk dadar tipis, angkat. Dadar siap diisi dengan berbagai isian.
Salah satunya yang kuisi potongan buah peach seperti di gambar.

Flensjes
Primarasa Ahli Masak Hidangan Peranakan Belanda - Cina

Bahan
kulit
125 gr terigu protein sedang
1/2 sdt ragi instan
1 butir telur, kocok
125 ml susu evaporasi
300 ml air
1 sdm margarin, lelehkan

Vla

50 gr tepung maizena
500 ml susu
2 kuning telur, kocok
100 gr gula pasir
50 gr kismis, rendam dalam 2 sdm rum (rum aku ganti air jeruk)

Cara Membuat
- Kulit: campur tepung, garam, telur kocok, susu dan air dalam wadah, aduk hingga licin. Masukkan mentega cair, aduk hingga jadi adonan lembut. Panaskan wajan dadar diameter 20cm. Tuang 1 sendok sayur adonan ke wajan, buat dadar tipis hingga matang, angkat.
- Vla: larutkan maizena dengan sedikit susu, tambahkan kuning telur, aduk rata. Jerang sisa susu bersama gula paisr hingga mendidih dan gula larut, tuangi larutan tepung, aduk hingga kental. Masukkan kismis, aduk rata, angkat.
- Ambil satu lembar dadar, taruh 2 sdm vla di atasnya, lipat bentuk segitiga atau gulung. Lakukan hingga adonan habis.

Cara Membuat
- Campur terigu dan ragi
- Kocok lepas telur, dan susu cair
- Tuang ke tepung, campur

Poffertjes


Ini hidangan trade mark kalau kita nongkrong di puncak pass. Semilir dingin angin dibayangi kabut gunung dan ditingkahi gerimis hujan, ... sepiring poffertjes hangat dan secangkir coklat panas adalah paduan yang passsss .....

Kirana suka minta dibikinin bisa buat sarapan, bekal sekolah atau cemilan, apalagi saat hujan begini. Saat dia main sama temannya, poffertjes juga merupakan teman main yang ok.

Berbagai resep poffertjes bersliweran di buku atau internet, tapi aku paling suka yang ini, dan dengan sedikit modif dari Wati NCC, poffertjes ini tidak saja nikmat tapi tampilannya menggoda, karena sangat menul-menul. Coba deh ...

Poffertjes
Primarasa Hidangan Peranakan Belanda - Cina, modif by Wati NCC

Bahan
250 gr terigu protein sedang (125 gr terigi protein tinggi + 125 gr terigu protein sedang)
1/2 sdt ragi instan (1 sdt ragi instan)
1/4 sdt garam
75 gr gula pasir
3 butir telur
400 ml susu cair
(200 ml susu evaporated + 200 ml susu cair)
50 gr margarin, lelehkan
50 gr keju cheddar, potong-potong kecil
(aku suka kraft quick melt)

Cara Membuat
- Ayak terigu, ragi, garam dan gula pasir.
- Panaskan susu (jangan sampai mendidih), kocok lepas telur, masukkan susu, aduk rata. Tuangkan ke campuran tepung, aduk dengan whisk.
- Tuang margarin
- Panaskan cetakan, oles dengan margarin, tuang di separuh lubang 1/2 tinggi lubang, tunggu sebentar sampai 1/2 matang (sampai muncul gelembung kecil).
- Di separuh sisa lubang, tuang adonan 1/2 tinggi lubang, tunggu sebentar, masukkan keju.
- Angkat adonan yang sudah 1/2 matang (tanpa keju), balikkan di adonan yang pakai keju, putar-putar dan masak sampai matang.
- Sajikan dengan taburan gula halus.

Untuk 4 porsi

Muffin Gurih




Lagi bosen sama menu sarapan, buka tumpukan buku resep, nemu resep praktis ini. Teksturnya meski padat tetap empuk, dan penampilannya cantik karena ada semburat hijau dari irisan seledri.
Selesai bikin ini muncul ide, bisa divariasi dengan irisan daging asap/korned, parutan keju, dan kalau suka potongan kecil brokoli. Kayaknya yummy dan menjadikannya sarat gizi, karena sudah lengkap dari karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Good idea .... !!!

Muffin Gurih
Kumpulan Menu Sedap seri 2: Lezat & Praktis

Bahan
150 gr terigu protein sedang
2 sdt BP
1/2 sdt kaldu bubuk
1 butir telur
1 sdm gula pasir
100 ml susu cair
50 gr minyak goreng
1/2 sdm seledri cincang

Cara Membuat
- Ayak terigu, BP, dan kaldu bubuk
- Kocok lepas telur, gula dan susu
- Tuang sedikit-sedikit ke campuran tepung
- Tambahkan minyak dan seledri, aduk rata.
- Tuang ke cetakan muffin kecil yang dialasi cup kertas
- Oven 15 menit suhu 190 'C

Untuk 10 buah
Tapi aku cuma jadi 6 buah muffin.

Rabu, Februari 03, 2010

Peralatan Dasar Baking

Memulai baking sebenarnya sederhana saja, mulailah dengan peralatan dasar sebagai berikut:
1. Mixer, cukup hand mixer untuk pemula. Kalau masih sayang beli philips, bisa beli miyako (nggak kalah philips lo), atau beli aja yang murah, yang penting bisa muter, he he ... Harganya mulai 100 rb.
2. Baskom, untuk mengocok adonan (kan pakai hand mixer). Lebih baik beli agak besar agar fleksible untuk mengocok banyak telur, 2 buah cukup. Beli yang plastik aja, murah, kalo bisa yang transparan agar bisa melihat apakah adonan tercampur rata. Harganya berkisar 10-15 rb.
3. Spatula, untuk mengaduk adonan. Saranku beli 2, satu besar (utk ngaduk adonan), satu kecil (untuk merapikan baskom atau loyang). Pilih yang karet dengan gagang kokoh. Harganya berkisar 10-25 rb.
4. Oven, yang paling ekonomis untuk pemula adalah oven tangkring (otang) yang nangkring di atas kompor. Harganya berkisar 150-300 rb.
5. Panci Kukusan, digunakan untuk mengukus kue. Panci kukus paling sederhana seperti yang dijual di pasar pun bisa, hanya masalah kapasitas ukuran loyang yang menjadi pertimbangan. Sekarang tersedia klakat ukuran kotak, sehingga bisa lebih leluasa mengukus cake dengan loyang persegi. Harga klakat sekitar 200 rb.
6. Timbangan, untuk menakar bahan-bahan kue. Paling bagus memang timbangan digital karena bisa memberikan ketepatan ukuran sampai 1 gr, tapi timbangan bukan digital (analog) pun tidak jelek. Timbangan digital harganya sekitar di atas 150 rb sedangkan timbangan analog sekitar di atas 50rb.
7. Sendok dan mangkok ukur, menurutku peralatan ini penting karena memberikan ketepatan ukuran dan sekarang banyak tersedia di supermarket dengan harga relatif murah. Sendok ukur tidak bisa digantikan dengan sendok teh ataupun sendok makan seperti yang kita pakai sehari-hari karena memang ukurannya berbeda. Kalau mangkok ukur memang lebih banyak dipakai oleh resep dari luar negeri yang memang mengedepankan kepraktisan.
8. Loyang, untuk pemula lebih baik punya beberapa loyang dasar, sehingga leluasa untuk mencoba berbagai resep, a.l. :
- loyang persegi ukuran 20x20x7cm
- loyang bundar diameter 20cm tinggi 7cm,
- 2 loyang kue kering (sesuaikan oven, jika oven ukuran 30cm, beli loyang 24x24cm),
- 2 lusin loyang cupcake satuan (bisa buat cupcake dan bolu kukus)
- loyang brownies 30x10x3cm
Harga masing-masing loyang 10 rb, cupcake 1 lusin 15 rb.
Cukup dengan loyang tsb, bermacam kue bisa dihasilkan. Tinggal ditambah koleksi sesuai kebutuhan, seperti loyang chiffon, loaf, tulban, dan berbagai ukuran loyang persegi dan bundar.

Koleksi alat bisa ditambah dengan peralatan dekor, sbb :
1. Spatula hias, seperti pisau panjang, cuma tidak tajam, untuk meratakan buttercream di atas cake. Harga mulai 25 rb.
2. Plastik segitiga, sebagai tempat buttercream, untuk membuat berbagai bentuk dengan bantuan spuit. Harga ukuran kecil sekitar 6 rb (100 pc/pak)
3. Meja Putar/lazy susan, sebenarnya ini nice to have, karena dulu aku gak punya pun bisa tetap dekor cake. Ya, yang muter2 orangnya atau cake di taruh di stoples dara bundar, trus diputer-puter stoplesnya (ini mesti hati-hati, kalo nggak cakenya tumplek). Harganya yang produk loka berbahan plastik hanya 40 rb, kalau yang dari kayu atau metal lebih mahal, yang super (kakinya dari marmer) mencapai ratusan ribu rupiah.
4. Alas cake, tinggal beli jadi banyak dijual, baik dari bahan karton tebal/tripleks berbungkus kertas perak, atau dari impraboard yang bisa dipakai ulang, atau cukup pakai piring datar yang lebar, terserah saja.
5. Spuit, sediakan saja 8 spuit dasar + 2 spuit tambahan sbb (ini pakai no Wilton, agar ada patokan standar):
- No. 4 : round, utk tali, tulisan, garis, cornelli, sotas
- No. 15 : open star kecil, motif bunga, kerang
- No. 199 : open star, motif kerang, kerang berdiri
- No. 104 : petal, motif bunga, renda
- No. 127 : petal besar, motif mawar, pita
- No. 22 : open star sedang, motif kerang koma, tumpuk, lilit, kepang
- No. 65 : leaf, motif daun
- No. 48 : basketweave, motif keranjang, pita
Spuit tambahan:
- No. 2110 / 1M : open star besar, motif bunga, swirl (utk cupcake)
- No. 233 : multi opening, motif rumput
Harga spuit yang kecil berkisar 23 rb, yang besar sekitar 40 rb (merk Wilton). Kalau ingin murah, beli aja spuit pasar isi 10-12 sekitar 5 rb berisi kurang lebih sama dengan spuit dasar. Atau waktu itu ada dijual di tbk paket aneka spuit plastik bikinan Malaysia berisi 24 pc harganya 24 rb.

Nah, apalagi yang menghalangi ?
Coba kita hitung, pakai asumsi harga murah:
- Mixer Rp. 150.000
- Oven Rp. 200.000
- 2 spatula Rp. 35.000
- Klakat Rp. 200.000
- Timbangan Rp. 50.000
- Sendok cup ukur Rp. 20.000
- Loyang Rp. 80.000
- Baskom Rp. 20.000
Total Rp. 755.000

Peralatan Hias
- Spatula Hias Rp. 25.000
- Plastik segitiga Rp. 6.000
- Spuit Rp. 5.000
- Meja putar Rp. 40.000
Total Rp. 76.000

Jumlah di atas bisa berkurang, kalo kita dapat warisan/pinjaman oven, klakat dan mixer, trus sendok dan mangkok ukur serta meja putar kita skip dulu, maka total investasi kita : Rp. 221.000. Murah kan ? Mungkin lebih murah dari jatah jajan sebulan. Padahal alat-alat tsb, selain plastik segitiga, tidak habis kita pakai, kita bisa menghemat pengeluaran jajan, hantaran, bahkan bisa cari duit dari situ, ga sampai sebulan udah BEP deh ... He he he ....

Baking Sindrom

Banyak orang punya niat untuk baking, tapi bingung untuk memulai, kadang udah keder membayangkan peralatan dan bahan-bahan yang kelihatannya mahal. Let's start with simple things ...

Saat memulai kembali baking aku hanya bermodal hand mixer buatan cina (ini juga dikasih ibu) dan panci kukusan (punyaku yang bulat besar biasa buat nasi kuning), aku udah bisa bikin bolu kukus, brownies kukus, cupcake kukus, jajan pasar, dan kue-kue lain yang digoreng.

Setelah itu aku mulai menambah peralatan, beli oven, upgrade mixer (krn yg lama jebol setelah kuperbudak), beli whisk, spatula, loyang, cetakan dan peralatan dekor sederhana.


Mulai join NCC, 'kegilaan'ku bertambah, apalagi setelah mengikuti beberapa kursus, biasa ... kena komporan teman juga. Kalo cewek-cewek lain kalap dengan sale kosmetik, baju, tas, sepatu, dll, aku ga bergeming. Aku cuma kalap kalo di toko bahan dan peralatan kue, promo baking tools di milis, diskon toko buku atau nemu buku baking di toko buku loak. Mulai deh tuh ... tumpukan loyang dan peralatan bahkan bahan baking bertambah di gudang. Sampai suami pernah complain, emang ga cukup loyang segini, masih beli terus ? Hi..hi.. kan tiap loyang kan punya fungsi yang beda ? Kumpulan resep pun makin menggunung. Aku mulai hapal seluk beluk dari online baking store, sampai toko bahan kue seantero Jakarta kayak Ani, Titan, Dharmaputra, Rossy, Mira, WT, Loyang, bahkan toko bahan kue level pasar tradisional pun aku jelajahi. Kalau nge-mal, bukan bagian baju, sepatu, tas atau make up, tapi bagian peralatan rumah atau dapur, atau toko peralatan rumah seperti ace hardware, superhome, electronic city, keluarnya bawa peralatan dapur lucu-lucu. Suami aja sampai bingung, saat ke luar kota pun aku sempetin nengok toko bahan kue setempat, alasanku, 'siapa tahu ada yang lucu-lucu' .... hi hi hi ...

Sejak bikin blog, makin terpacu keinginan menampilkan catatan baking lebih baik, dan sekarang tertular virus baru: food photography. Jadi lihat pernik-pernik, pengen juga buat koleksi properti photography. Haia ... Kapan sembuhnya kalau tertular virus melulu ? Tapi ga pa-pa to, wong yang digandrungi sesuatu yang positif.

Saat pengen menyenangkan diri sendiri, maka baking atau tour de toko bahan kue akan jadi penyaluranku. Kalau lagi berantem sama suami, dia tahu cara islah paling tokcer, dia akan bilang, 'mau dianterin ke titan ga ?' ha ha ha ....

Kenapa baking ?

Ya ... Kenapa baking ? Pertanyaan yang dilontarkan teman-teman saat mengetahui keseharianku sekarang kuisi dengan baking. Sebenarnya mereka ga tahu juga, bahwa sejak sekolah dulu, aku udah suka baking juga, apalagi kalo ibu ada pesanan kue, dari snack box sampai wedding cake. Aku ingat, aku suka 'diselundupkan' sama ibu untuk ikut demo masak atau bikin kue. Sering juga eksperimen resep, apalagi adikku dengan senang hati menampung hasilnya, berhasil atau gagal.

Saat kuliah, karena merantau, hobi tak bisa tersalur, tahulah kondisi orang rantau, cuma aku suka ngumpulin resep Femina (hihi majalahnya beli di tukang loak). Saat aku pindah kost ke tempat yang ada pantry sendiri, boleh masak dan dilengkapi peralatan, mulai berani bikin yang simple, secara kantong juga ngepas.

Saat merried, belum terpikir juga nerusin hobi, apalagi langsung si kecil lahir, ngurusin sendiri suami baru, kerjaan baru, rumah baru, anak-anak berikutnya tak menyisakan energi dan waktu untuk baking.
Nah, setelah 3 anakku lumayan bisa mandiri (paling kecil udah tk), energi berlebih ini butuh penyaluran ... Ha ha ha ...

Nggak tahu kenapa, dengan baking aku bisa mendapat waktu refreshing dari berbagai aktivitas yang kujalani. Dari tekanan dan tuntutan pekerjaan yang intens terkadang emosional, tekanan emosi menghadapi anak atau suami bahkan pembantu, atau pikiran lain yang kadang membebani pikiran. Sensasi baking sangat berbeda dengan cooking, yang tidak bisa kurasakan adrenalin. Memang baking tetap butuh konsentrasi, yang bagi sebagian orang malah menciptakan stress tersendiri, tapi buatku bagaikan diberi teka-teki plus disuruh adu ketangkasan yang menimbulkan perasaan puas saat berhasil menaklukkannya.

Saat mixer berbunyi, adrenalin sudah terpacu, kemudian mengaduk adonan (yang kalau salah, langsung gagal deh), menanti adonan mengembang dan membentuk kue yang sempurna bagaikan menunggu suatu pencapaian dengan adrenalin yang memuncak. Saat kue sesuai dengan hasil yang kita harapkan, wuih ... rasanya kayak menaklukkan himalaya (lebay ga sih ...). Hua ha ha ... Jangan ketawa, aku sendiri kadang ga nyangka dengan ekspresiku sendiri saat berhasil menaklukkannya. Seperti saat berhasil bikin cheese cake, aku bisa nari-nari sekeliling dapur; bisa bikin chiffon cake teriak-teriak 'yes yes yes'; bisa bikin bolkus ngakak (krn selama ini cuma ketawa) langsung lompat-lompat sambil teriak 'berhasil-berhasil-berhasil' .... Ha ha ha .... Suami sama anak sampai bingung ...

Makanya buat yang butuh penyaluran stress, baking aja yuk ... Ga usah ngafe, ngrumpi, shopping, clubbing, dan de el el yang kadang malah banyak mudharatnya. Baking aja, stres tersalur, anak suami seneng mak-nya ga keluyuran, menghemat karena ga perlu lagi beli makanan di luar yang banyak mengandung bahan kimia (krn utk kepentingan industri dan ekonomi), dan siapa tahu bisa nambah penghasilan, he he he .... Baking yuk baking !!!!!